Resume Kepemimpinan Karismatik dan Kepemimpinan Visioner



Kepemimpinan Karismatik, Karisma adalah sebuah kata Yunani yang berarti “karunia diinspirasi illahi” (divinely inspired gift) seperti kemampuan untuk melakukan mukjizat atau memprediksi peristiwa-peristiwa di masa mendatang.Di dalam teori Weber kepemimpinan mereka menggunakan pesona pribadi dan kharisma untuk membantu dalam mencapai tujuan.Sedangkan menurut House (1977), seorang pemimpin yang kharismatik mempunyai dampak yang dalam dan tidak biasa terhadap pengikut, mereka merasakan bahwa keyakinan-keyakinan pemimpin tersebut adalah benar, mereka menerima pemimpin tersebut tanpa mempertanyakan lagi, mereka terlibat secara emosional dalam misi  kelompok atau organisasi tersebut, mereka percaya bahwa mereka dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan misi tersebut, dan mereka mempunyai tujuan-tujuan kinerja tinggi. 
Karakteristik Pemimpin karismatik,Beberapa karekteristik yang biasa dianggap sebagai tolak ukur seorang pemimpin yang karismatik, antara lain: penampilan fisik, usia, jumlah harta yang dimiliki.
Kepemimpinan Visioner, Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan, mensosialisasikan, menstranformasikandan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dai dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial diantara anggota organisasi dan stakeholders yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus diraih atau diwujudkan melalui komitmen semua personil. 
Peran Pemimpin Visioner, menurut Burt Nanusmengungkapkan ada empat peran yang harus dimainkan oleh pemimpin visioner dalam melaksanakan kepemimpinannya, yaitu:
a.    Peran penentu arah (direction setter)
b.    Agen perubahan (agent of change).
c.    Juru bicara (spokesperson).
d.   Pelatih (coach)

Resume Manajemen Stres


Manajemen Stres, stres dapat dikatakan sebagai suatu gangguan pada tubuhdan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan. Stres merupakan pengalaman internal yang menciptakan ketidakseimbangan fisik dan psikis dalam diri seseorang, sebagai akibat dari faktor lingkungan eksternal, lembaga, organisasi, atau orang lain. Oleh karena itu stres dipengaruhi oleh lingkungan dan penampilan individu dalam lingkungan tersebut. Davis (1997:86) mengemukakan bahwa stres adalah bentuk reaksi terhadap tekanan yang intensitasnya sudah terlalu tinggi. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa stres adalah gangguan atau kekacauan mental, dan emosional.
Penyebab Stres, Stres biasanya diawali dengan munculnya bibit stres, sehingga setiap individu harus mampu mengidentifikasi sumber dan tipe bibit-bibit stres secara dini, menganalisa akibat yang harus ditanggung, serta mengidentifikasi kekuatan atau kelemahannya untuk menentukan langkah preventif secara tepat. Stres dapat disebabkan oleh dua hal yakni dari lingkungan organisasi dan dari luar organisasi.  
Kondisi yang Menimbulkan Stres, Dalam bekerja ada beberapa kondisi atau situasi kerja yang dapat menimbulkan stres, antara lain:Beban kerja yang terlalu berat (overload); Tekanan atau desakan waktu; Perbedaan nilai atau persepsi anggota dan organisasi, lembaga atau perusahaan; Pemeriksaan atau supervisi yang berlebihan; Umpan balik tidak memadai; Konflik antarpribadi anggota kelompok.
 Tips untuk Kepala Sekolah dalam Manajemen Stres, Untuk menghindari adanya masalah dalam stres kepala sekolah harus malatih diri dalam tiga hal, antara lain:Mengelola Waktu; Mengembangkan Energi; Memecahkan Masalah.

Resume Pembuatan Keputusan

     Pembuatan Keputusan, Menurut Siagian dalam Soetopo (2010:45) pembuatan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap suatu masalah yang dihadapi. Pendekatan sistematis menyangkut pengetahuan tentang hakekat masalah yang dihadapi, pengumpulan fakta dan data yang relevan dengan masalah yang dihadapi, analisis masalah dengan mempergunakan fakta dan data, mencari alternatif pemecahan, menganalisis setiap alternatif sehingga dikemukakan alternatif yang paling rasional, dan penilaian hasil yang dicapai sebagai akaibat dari keputusan yang diambil. Menurut Wahab (2001:163) pengambilan keputusan di dalam suatu organisasi merupakan hasil suatu proses komunikasi dan partisipasi yang terus menerus dari keseluruhan organisasi. Jadi pembuatan keputusan adalah suatu proses memilih alternatif yang paling sesuai dan tepat di antara beberapa alternatif untuk memecahkan suatu masalah melalui beberapa proses atau tahapan tertentu.      
    Peran Pemimpin dalam Pengambilan Keputusan, Setiap Kepemiminan seseorang sangat besar peranannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas seorang pemimpin. Dengan demikian dapat dikatakan jika seorang  pemimpin tidak dapat membuat keputusan maka tidak bisa dikatakan sebagai seorang pemimpin. Pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil baik atau buruk tidak diambil dari konsekuensi yang telah terjadi, melainkan pertimbangan dari prosesnya.

    Gaya Pengambilan Keputusan, Selain proses pengambilan keputusan terdapat pula gaya pengambilan keputusan, riset tentang gaya pengambilan keputusan telah mengidentifikasi empat pendekatan gaya individual yang berbeda (Rivai, 2004:153).

1)   Direktif (toleransi rendah dan mencari rasionalitas), Efisien mengambil keputusan secara cepat dan berorientasi jangka pendek.
2)   Analitik (toleransi tinggi dan mencari rasionalitas), Pengambilan keputusan yang cermat dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru.
3)   Konseptual (toleransi tinggi dan intuitif), Berorientasi jangka panjang, seringkali menekan solusi kreatif atas masalah.
            4) Behavioral (toleransi rendah dan intuitif), Mencoba menghindari.

Analisis Perencanaan Pendidikan di Indonesia



A.    Perencanaan Pendidikan di Indonesia
Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya pewarisan nilai, yang akan jadi penolong dan penuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan, sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Secara ekstrim dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu bangsa ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalanani oleh bangsa tersebut. Pendidikan merupakan bagian dari supra sistem pembangunan nasional.
Pembangunan nasional, sebagaimana tertuang dalam GBHN, adalah pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila di dalam wadah NKRI. Pembangunan nasional sebagai supra sistem yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Tujuan semua sistem bermuara pada tujuan supra sistem yaitu tujuan pembangunan nasional. pendidikan nasional, menurut UU No 2 Tahun 1989 dan No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Sebagai sebuah sistem. pendidikan nasional membina dan mengembangkan subsistem pendidikan formal, nonformal, dan informal. Keseluruhan subsistem tersebut  dilaksanakan dengan kesatuan visi dan misi sebagai berikut:

Visi Pendidikan Nasional
“Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah”

Misi Pendidikan Nasional
1.    Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
2.  Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.
4.   Meningkatkan keprofesionalan dan akuntbilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global.
5.   Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks NKRI.

B.     Jenis Analisis Perencanaan Pendidikan
1.      Analisis Kohort
Kohort berasal dari Romawi yang berarti kelompok di dalam ketentaraan. Kohort ini selanjutnya diterapkan pada dunia kependudukan yang diartikan sebagai kelompok penduduk yang lahir pada suatu tahun yang sama (kelompok umur yang sama). Selanjutnya dibidang pendidikan juga menggunakan istilah kohort untuk kelompok siswa yang bearada pada suatu tingkatan yang sama pada tahun tertentu pada suatu sistem pendidikan tertentu pula. Data yang dibutuhkan untuk menyusun kohort adalah:
a)      Jumlah tahun pelajaran dalam satu siklus pendidikan tertentu
b)      Jumlah siswa baru yang masuk di kelas satu
c)      Jumlah siswa perkelas
d)     Jumlah siswa yang naik kelas/lulus
e)      Jumlah siswa yang tinggal kelas (mengulang)
f)       Jumlah siswa yang putus sekolah (DO)
g)      Jumlah siswa yang mutasi
Kegunaan kohort adalah selain dapat membantu para perencana dan administrator pendidikan mengetahui persoalan penyelenggaraan pendidikan dengan cepat dan mudah, data pada kohort juga dapat dijadikan bahan acuan dan informasi penting dalam melakukan pengendalian dan diagnosis sistem pendidikan untuk tujuan perencanaan pendidikan.

2.      Analisis Efisiensi Internal Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk mengukur tingkat efisiensi internal penyelenggaraan pendidikan dapat dilakukan dengan menganalisis data yang terdapat pada kohort siswa ada dua pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan kohort lengkap (tergambar siswa yang masuk mulai ditingkat satu sampai mereka lulus) dan kohort yang belum lengkap (belum terlihat siswa yang tamat).

3.      Analisis Keadaan Waktu Sekarang
Analisis keadaan waktu sekarang harus meliputi semua komponen yang menjadi titik pusat perencanaan. Komponen itu misalnya: mahasiswa, staf pelajar, prasarana, sarana dan alat, kurikulum, tenaga non-edukatif dan keuangan yang tersedia. Semua komponen ini ditinjau dari keadaannya sekarang. Kegiatan ini berbeda dengan kegiatan diagnosis. Diagnosis bertujuan mendapatkan data tentang kelemahan serta kekurangan dari program yang sudah ada, sedangkan analisis keadaan sekarang bertujuan untuk mengetahui keadaan apa adanya pada saat sekarang. Diagnosis ditujukan untuk memperbaiki program sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, sedangkan analisis keadaan sekarang dipakai sebagai tumpuan untuk mencapai tujuan berikutnya. Analisis keadaan sekarang juga dapat disamakan dengan pengumpulan data (fact finding). Menurut Lippitt (1978) kegiatan ini merupakan fase yang sangat penting, tetapi sering kali kurang diperhatikan.
Kegiatan analisis keadaan sekarang memerlukan pedoman yang terperinci sehingga data yang diperoleh memang benar-benar data yang diperlukan dalam perencanaan. Data ini bersifat kualitatif, seperti misalnya data tentang pendapat mahasiswa, jumlah lulusan, jumlah dosen yang mempunyai golongan IV a keatas dan sebagainya. Data yang dipakai untuk mengadakan analisis keadaan sekarang dapat diperoleh dengan cara yang sederhana seperti mendegarkan pendapat, keluhan, atau laporan perseorangan tetapi dapat pula sangat kompleks dengan menggunakan perhitungan komputer. Biasanya analisis keadaan sekarang itu dilakukan dengan memakai :
a)      Interview
b)      Kuisioner
c)      Observasi
d)     Dokumen dan catatan lain
e)      Test

C.    Metode Analisis Perencanaan Pendidikan

1.      Metode Analisis Sumber-Cara-Tujuan
            Metode  ini dipakai untuk meneliti sumber-sumber dan beberapa alternatif pelaksanaan program untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
a)  melakukan analisis tentang sumber daya yang ada, baik sumber daya internal atau eksternal yang dimiliki.
b) melakukan analisis tentang beberapa metode (cara) atau strategi yang dapat dilakukan dalam proses pelaksanaan program yang telah dirancang, agar efektif dalam pencapaian tujuan.
c)  melakukan analisis tentang tujuan jangka pendek, menengah dan tujuan jangka panjang secara integral dan berkesinambungan.

2. Metode Analisis Masukan-Keluaran
Metode ini dipakai untuk menganalisis beberapa  faktor input pendidikan, proses pendidikan, dan output pendidikan. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
a) melakukan analisis tentang faktor-faktor input pendidikan, misalnya: 1) analisis memiliki kebijakan mutu sekolah; 2) analisis sumber daya tersedia dan siap; 3) analisis tentang harapan prestasi yang tinggi; 4) analisis terhadap pelanggan (khususnya pada peserta didik yang masuk); dan 5) analisis manajemen MBS   (Dirjen Dikdasmen, 2006; Bafadal, I. 2003)
b) melakukan analisis tentang proses layanan pendidikan, misalnya: 1) analisis efektivitas proses belajar mengajar; 2) analisis kepemimpinan sekolah yang demokratis; 3) analisis pengelolaan SDM dan keuangan yang efektif, transparan dan akuntabel; 4) analisis sekolah berbudaya mutu; 5) analisis sekolah yang memiliki teamwork yang kompak, cerdas, visioner, dan dinamik; 6) analisis kemandirin dalam pengelolaan sumber daya sekolah; dan sebagainya (Dirjen Dikdasmen, 2006)
c) melakukan analisis output pendidikan, misalnya: 1) analisis kualitas karya sekolah; 2) analisis produktivitas warga sekolah; 3) analisis lulusan dengan kebutuhan masyarakat

3.  Metode Analisis Ekonometrik
Metode ini memakai data empirik, statistik, kuantitatif, dan teori ekonomi dalam mengukur perubahan untuk hubungannya dengan ekonomi. Metode ini lebih dekat dengan pendekatan perencanaan pendidikan model untung rugi atau  keefektifan biaya. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
a) melakukan analisis secara empirik atau kuantitatif tentang sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh lembaga, yang berpotensi untuk bisa dikembangkan secara maksimal dalam rangka meraih keuntungan finansial secara maksimal.
b) melakukan analisis  tentang peluang output dari layanan pendidikan yang dapat terserap oleh dunia usaha atau industri, sehingga layanan pendidikan yang diberikan betul-betul mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Oleh karena proses layanan pendidikan yang tidak bernilai produktif (memberi nilai ekonomis) harus ditiadakan.

4. Metode Diagram Sebab Akibat
Metode ini dipakai dalam perencanaan yang menggunakan sekuen hipotetik untuk mendapatkan gambaran masa depan yang lebih baik. Metode ini hampir sama dengan pendekatan strategik. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
a) melakukan analisis beragam problem atau beragam tantangan yang akan dihadapi oleh dunia pendidikan di masa yang akan datang. Oleh karena itu diperlukan adanya analisis SWOT (Strength atau kekuatan, Weakness atau kelemahan, Opportunity atau kesempatan, and Threat atau ancaman) secara cermat pada semua aspek atau bidang-bidang pendidikan yang akan dikembangkan. Tujuan dilakukan analisis SWOT adalah untuk mengenali tingkat kesiapan setiap bidang pendidikan atau aspek kelembagaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan
b) melakukan analisis tindakan atau langkah-langkah yang tepat, yang dapat dilaksanakan dalam menghadapi beragam tantangan atau problem yang muncul pada era yang akan datang.

5. Metode Analisis Siklus Kehidupan
Metode ini dipakai untuk mengalokasikan sumber daya yang ada di sekolah dengan memperhatikan siklus kehidupan produksi atau output layanan pendidikan (lulusan), proyek, program dan proses kegiatan layanan pendidikan. Tahapan yang perlu diperhatikan oleh penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, adalah:
a)   Melakukan konseptualisasi program-program dalam perencanaan pendidikan
b)   Spesifikasi program-program dalam perencanaan pendidikan
c)   Pengembangan prototipe layanan pendidikan
d)   Pengujian dan evaluasi program-program dalam perencanaan pendidikan
e)    Operasi
f)    Produk atau output layanan pendidikan (lulusan)

6. Metode Proyeksi
Metode ini paling banyak dipakai dalam perencanaan pendidikan di tingkat mikro (lembaga satuan pendidikan). Perencanaan pendidikan yang menggunakan metode proyeksi, akan menghasilkan cara (metode) pemecahan masalah penduduk lima tahunan, data persekolahan, proyeksi penduduk usia sekolah, proyeksi siswa, proyeksi ruang kelas, dan proyeksi kebutuhan guru. Dalam metode ini paling tidak ada tiga metode proyeksi, yaitu:
a) Angka pertumbuhan siswa, angka pertumbuhan siswa adalah perhitungan kenaikan siswa setiap tahunnnya.
b)  Kohort siwa, kohort adalah satu angkatan siswa yang masuk kelas 1 (awal) sampai tamat sekolah.
c)  Arus siswa, proyeksi arus siswa ini akan memberikan gambaran yang lebih akurat dan tepat karena memberikan data yang mendekati kenyataan. Hal ini disebabkan proyeksi ini menggunakan berbagai parameter yang mengontrol hasil proyeksi tiga arus dari setiap tingkat, yaitu: (a) angka mengulang; (b) angka naik kelas; dan (c) angka putus sekolah (Usman, H. 2008)

D.    Langkah Menganalisis Perencanaan Pendidikan
Depdikbud (1982), mengemukakan langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penyusunan perencanaan pendidikan yaitu:
1.      pengumpulan dan pengolahan data
2.      diagnosis
3.      perumusan kebijakan
4.      perkiraan kebutuhan masa depan
5.      perhtungan biaya
6.      penetapan sasaran
7.      perumsan rencana
8.      perincian rencana
9.      implementasi rencana
10.  evaluasi rencana
11.  revisi rencana, secara lebih rinci diuraikan sebagai berikut:
a)    Pengumpulan dan pengolahan data, perkembangan pendidikan pada masa sekarang sangat perlu diketahui dan dipahami secara jelas oleh perencana pendidikan karena gambaran keadaan itu akan dijadikan dasar untuk penyusunan perencanaan pendidikan. Langkah pertama yaitu mengidentifikasi jenis data yang diperlukan.
b)  Jenis data yang dikumpulkan, berkenaan dengan sistem pendidikan, baik data kuantitatif, data sarana dan prasarana, keadaan penduduk, geografi, dan lapangan kerja.
c) Diagnosis, data yang sudah terkumpul harus dianalisis dan didiagnosis. Menganalisis data merupakan proses untuk menghasilkan suatu informasi. Mendiagnosisi keadaan pendidikan dapat dilakukan melalui penelitian dengan jalan meninjau segala usaha dan hasil pendidikan, termasuk mengkaji rencana yang sudah disusun tetapi belum dilaksanakan. Dalam mendiagnosis keadaan pendidikan dipergunakan kriteria-kriteria seperti relevansi, efektifitas dan efesiensi.
d)  Perumusan kebijakan, merupakan suatu pembatasan gerak tentang apa-apa yang akan dijadikan keputusan oleh orang lain. Suatu kebijakan di bidang pendidikan dirumuskan secara melembaga oleh pemerintah dengan melibatkan instansi-instansi terkait. Biasanya kebijakan pendidikan sudah dituangkan dalam Repelita. Para perencana pendidikan tetap memegang peranan penting terutama dalam memberikan nasehat teknis dalam perumusan kebijakan.
e) Perkiraan kebutuhan masa depan, perencanaan pendidikan harus mampu memperkirakan kebutuhan masa depan, sehingga rencana yang lengkap dapat disusun.
f)  Perhitungan biaya, menghitung untuk semua kebutuhan yang sudah diidentifukasikan di masa datang. Perhitungan biaya dilakukan dengan menggunakan satuan biaya atau standardisasi harga yang berlaku untuk setiap kelompok kebutuhan dengan memperhatikan fluktuasi harga.
g)  Penetapan sasaran, para perencana pendidikan meneliti sasaran-sasaran pendidikan untuk masa yang akan datang. Dari sasaran itu ditetapkanlah dana untuk masing-masing tingkatan sekolah.
h) Perumusan rencana, perencanaan yang disusun pada dasarnya ditujukan untuk, menyajikan serangkaian rancangan keputusan untuk disetujui dan menyediakan pola secara matang.
i)  Perincian rencana, rencana yang telah dirumuskan dilakukan dengan cara, yaitu penyusunan program dan identifikasi serta perumusan proyek. Penyusunan program adalah membagi-bagikan rencana kedalam kelompok kegiatan. Setiap kegiatan dalam kelompok ini harus saling menunjang, dan meuju tujuan yang sama.
j)  Implementasi rencana, fase ini sudah sampai pada pelaksanaan rencana yang disusun. Implementasi ini mulai dilakukan apabila masing-amasing proyek yang diusulkan sudah disahkan. Oleh karena itu kerangka organisasi untuk berbagai proyek dikembangkan berdasarkan biaya tahunan. Disamping itu dikembangkan rencana operasionalnya sepefrti pendelegasian wewenang, penugasan tanggungjawab, pengadaan mekanisme umpan balik dan pengawasannya.
k)    Evaluasi rencana, dapat dikatakan sebagai kegiatan akhir dari proses perencanaan sebelum revisi dilakukan. Penilaian berkaitan dengan kemajuan/perkembangan dan penemuan penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan suatu rencana. Penilaian yang dilakukan juga bermanfaat untuk melihat rangkaian kegiatan dalam proses perencanaan
l)   Revisi rencana, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi rencana. Revisi bertujuan untuk memperbaiki, melengkapi atau menyempurnakan rencana yang akan datang berdasarkan pengalaman masa lalu (rencana yang sudah dilaksanakan)

E.     Contoh Skenario Masa Depan dan Perumusan Tujuan dalam Perencanaan Pendidikan
            Skenario masa depan Indonesia telah di tulis oleh beberapa ahli, diantara tulisan-tulisan tersebut tulisan Sumitro Djojohadikusumo (1975) memberikan gambaran skenario yang agak lengkap. Skenario itu dimulai dari asumsi bahwa pertambahan penduduk merupakan faktor pokok dalam dinamika pembangunan yang dilaksanakan Indonesia. Dalam tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia akan menjadi 250 juta. Perhitungan ini di dasarkan pada asumsi, bahwa laju penurunan dalam tingkat kesuburan (Fertility rate) terjadi pada tahun 2000. Sebesar 25 persen dari 250 juta penduduk tersebut, 146 juta bermukim di pulau jawa dan madura, yang berarti kepadatan penduduk di jawa akan mencapai 1105 KM2. Dalam keadaan demikian pemenuhan kebutuhan pokok seperti pangan, papan, kesehatan, pendidikan merupakan masalah yang sangat kritis.
            Disamping itu kemajuan-kemajuan teknologi yang dicapai oleh manusia makin hari bertambah besar pula. Teknologi ini memungkinkan perbaikan  tingkat hidup manusia apabila penggunaannya tepat. Teknologi akan menyebabkan perubahan-perubahan besar dalam pola perubahan kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan kata lain, perubahan-perubahan tersebut tidak hanya mencakup berbagai segi yang luas dalam kemasyarakatan, lembaga kenegaraan, serta tata kehidupan yang lain, tetapi juga dapat menciptakan nilai-nilai baru yang berpengaruh pada tata cara hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia (Syarif Thajeb, 1981).  Dengan latar belakang inilah negara melaksanakan pembangunan sebagai wahana untuk mencapai sasaran akhir kesejahteraan rohani dan jasmani warganya dalam suatu tata kehidupan pancasila.
            Untuk itu dibutuhkan manusia-manusia terdidik yang mampu menggunakan teknologi sebagai alat untuk mencapai cita-cita nasional tersebut. Tujuan pendidikan nasional kita harus diturunkan dari skenario itu. Sesuai dengan skenario masa depan itu dalam GBHN 1978 ditulis antara lain bahwa “pendidikan nasional berdasarkan atas pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan Tuhan YME, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar mendapatkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. Dalam dokumen kebijaksanaan dasar pengembangan pendidikan tinggi (Keputusan menteri P & K nomor. 0140/U/1975 tanggal 20 juli 1975) dinyatakan bahwa tanggung jawab pendidikan tinggi adalah mengembangkan kemampuan serta kecakapan mahasiswa serta masyarakat untuk mampu berpikir dengan berorientasi kepada kepentingan bangsa serta kemanusiaan, baik pada waktu sekarang maupun pada masa yang akan datang, dengan menggunakan pola-pola obyektif, kritis, analitis, yang dapat menghasilkan persepsi dan konsepsi yang tepat (Syarif Thajeb, 1981). Dalam kebijaksanaan dasar pengembangan pendidikan tinggi ditentukan arah pembinaan dan pengembangan pendidikan tinggi sebagai berikut:
“Dengan berlandaskan pada dasar-dasar tersebut dan berpedoman pada konsep pendidikan seumur hidup (Life Long Education), pembinaan serta pengembangan perguruan tinggi harus terarah. Pengarahan pada dasarnya ditujukan kepada pengembangan suatu sistem pendidikan tinggi di Indonesia secara menyeluruh yang menyangkut perguruan-perguruan tinggi pemerintah dan suatu pola pembinaan, dengan arah-arah sebagai berikut:
1.      Pendidikan  tinggi harus merupakan bagian integral dari usaha-usaha pembangunan baik nasional maupun regional.
2.    Pendidikan tinggi harus merupakan penghubung antara dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan masyarakat.
3.      Pendidikan tinggi harus melaksanakan pendidikan berdasarkan pola-pola pemikiran yang analitis dan berorientasi kepada pemecahan-pemecahan permasalahan dan disertai oleh suatu pandangan masa depan.
4.      Pendidikan tinggi harus berpartisipasi dalam perbaikan serta perkembangan: 1). Mutu kehidupan dan kebudayaan; 2). Ilmu pengetahuan dan penerapannya; 3). Pengertian dan kerjasama internasional dalam usaha mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia.
Pendidikan tinggi hendaknya memungkinkan terlaksananya: a) Pembangunan seluruh kemampuan serta kepribadian manusia; 2) Mobilitas siswa dari satu pengalaman pendidikan yang lain; 3) Diversifikasi dalam pendidikan dan proses belajar; 4) Demokratisasi dalam pendidikan dan proses belajar; 5) Mobilisasi sumber-sumber masyarakat yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan; 6) Pertumbuhan kegairahan riset”. (Syarif Thajeb, 1981).



DAFTAR RUJUKAN

Shorif, M.2002. Metode dan Model Perencanaan Pendidikan,(online), (file:///K:/Perencanaan%20Pendidikan/Metode%20dan%20Model%20Perencanaan%20Pendidikan%20~%20gadogadozaman.htm), diakses 8 Januari 2015. 
Isman, Baitur. 2011. Perencanaan Pendidikan (2), (online), (file:/// K:/Perencanaan%20Pendidikan/PERENCANAAN%20PENDIDIKAN%20%282%29%20_%20Menggagas%20dan%20Berkarya.htm), diakses 8 Januari 2015.
Matin,   2013. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada

Popular Posts