Analisis Perencanaan Pendidikan di Indonesia
07.00
A.
Perencanaan
Pendidikan di Indonesia
Pendidikan
pada hakekatnya merupakan suatu upaya pewarisan nilai, yang akan jadi penolong
dan penuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan, sekaligus untuk
memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Secara ekstrim dapat dikatakan,
bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu bangsa ditentukan oleh
bagaimana pendidikan yang dijalanani oleh bangsa tersebut. Pendidikan merupakan
bagian dari supra sistem pembangunan nasional.
Pembangunan nasional, sebagaimana tertuang dalam GBHN, adalah
pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia yang
bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila di
dalam wadah NKRI. Pembangunan nasional sebagai supra sistem yang saling
berkaitan antara satu dengan lainnya. Tujuan semua sistem bermuara pada tujuan
supra sistem yaitu tujuan pembangunan nasional. pendidikan nasional, menurut UU
No 2 Tahun 1989 dan No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan
martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional.
Sebagai sebuah sistem. pendidikan nasional membina dan mengembangkan subsistem
pendidikan formal, nonformal, dan informal. Keseluruhan subsistem
tersebut dilaksanakan dengan kesatuan visi dan misi sebagai berikut:
Visi
Pendidikan Nasional
“Terwujudnya
sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk
memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang
berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu
berubah”
Misi
Pendidikan Nasional
1. Mengupayakan
perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi
seluruh rakyat Indonesia.
2. Membantu
dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini
sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
3. Meningkatkan
kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan
pembentukan kepribadian yang bermoral.
4. Meningkatkan
keprofesionalan dan akuntbilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan
ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar
nasional dan global.
5. Memberdayakan
peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip
otonomi dalam konteks NKRI.
B.
Jenis
Analisis Perencanaan Pendidikan
1.
Analisis Kohort
Kohort berasal dari Romawi yang berarti kelompok di dalam
ketentaraan. Kohort ini selanjutnya diterapkan pada dunia kependudukan yang
diartikan sebagai kelompok penduduk yang lahir pada suatu tahun yang sama
(kelompok umur yang sama). Selanjutnya dibidang pendidikan juga menggunakan
istilah kohort untuk kelompok siswa yang bearada pada suatu tingkatan yang sama
pada tahun tertentu pada suatu
sistem pendidikan tertentu pula. Data yang dibutuhkan untuk menyusun kohort adalah:
a) Jumlah tahun pelajaran dalam satu siklus pendidikan
tertentu
b) Jumlah siswa baru yang masuk di kelas satu
c) Jumlah siswa perkelas
d) Jumlah siswa yang naik kelas/lulus
e) Jumlah siswa yang tinggal kelas (mengulang)
f) Jumlah siswa yang putus sekolah (DO)
g) Jumlah siswa yang mutasi
Kegunaan kohort adalah selain dapat membantu para
perencana dan administrator pendidikan mengetahui persoalan penyelenggaraan
pendidikan dengan cepat dan mudah, data pada kohort juga dapat dijadikan bahan
acuan dan informasi penting dalam melakukan pengendalian dan diagnosis sistem
pendidikan untuk tujuan perencanaan pendidikan.
2.
Analisis Efisiensi Internal Penyelenggaraan Pendidikan
Untuk mengukur tingkat efisiensi internal penyelenggaraan
pendidikan dapat dilakukan dengan menganalisis data yang terdapat
pada kohort siswa ada dua pendekatan yang dapat
dilakukan, yaitu dengan menggunakan kohort lengkap (tergambar siswa yang masuk
mulai ditingkat satu sampai mereka lulus) dan kohort yang belum lengkap (belum
terlihat siswa yang tamat).
3. Analisis Keadaan Waktu Sekarang
Analisis keadaan
waktu sekarang harus meliputi semua komponen yang menjadi titik pusat
perencanaan. Komponen itu misalnya: mahasiswa, staf pelajar, prasarana, sarana
dan alat, kurikulum, tenaga non-edukatif dan keuangan yang tersedia. Semua
komponen ini ditinjau dari keadaannya sekarang. Kegiatan ini berbeda dengan
kegiatan diagnosis. Diagnosis bertujuan mendapatkan data tentang kelemahan
serta kekurangan dari program yang sudah ada, sedangkan analisis keadaan
sekarang bertujuan untuk mengetahui keadaan apa adanya pada saat sekarang.
Diagnosis ditujukan untuk memperbaiki program sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan, sedangkan analisis keadaan sekarang dipakai sebagai tumpuan untuk
mencapai tujuan berikutnya. Analisis keadaan sekarang juga dapat disamakan
dengan pengumpulan data (fact finding).
Menurut Lippitt (1978) kegiatan ini merupakan fase yang sangat penting, tetapi
sering kali kurang diperhatikan.
Kegiatan analisis keadaan sekarang memerlukan
pedoman yang terperinci sehingga data yang diperoleh memang benar-benar data
yang diperlukan dalam perencanaan. Data ini bersifat kualitatif, seperti
misalnya data tentang pendapat mahasiswa, jumlah lulusan, jumlah dosen yang
mempunyai golongan IV a keatas dan sebagainya. Data yang dipakai untuk
mengadakan analisis keadaan sekarang dapat diperoleh dengan cara yang sederhana
seperti mendegarkan pendapat, keluhan, atau laporan perseorangan tetapi dapat
pula sangat kompleks dengan menggunakan perhitungan komputer. Biasanya analisis
keadaan sekarang itu dilakukan dengan memakai :
a) Interview
b)
Kuisioner
c)
Observasi
d)
Dokumen dan catatan lain
e) Test
C.
Metode
Analisis Perencanaan Pendidikan
1. Metode
Analisis
Sumber-Cara-Tujuan
Metode ini dipakai untuk meneliti sumber-sumber dan
beberapa alternatif pelaksanaan program untuk mencapai tujuan pendidikan.
Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal
yang perlu dilakukan adalah:
a) melakukan analisis tentang sumber daya yang ada, baik
sumber daya internal atau eksternal yang dimiliki.
b) melakukan analisis tentang beberapa metode (cara)
atau strategi yang dapat dilakukan dalam proses
pelaksanaan program yang telah dirancang, agar efektif dalam pencapaian tujuan.
c) melakukan
analisis tentang tujuan jangka pendek, menengah dan tujuan jangka panjang secara
integral dan berkesinambungan.
2. Metode Analisis Masukan-Keluaran
Metode ini dipakai
untuk menganalisis beberapa faktor input
pendidikan, proses pendidikan, dan output pendidikan. Sebagai penyusun perencanaan
pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
a)
melakukan analisis tentang faktor-faktor input
pendidikan, misalnya: 1) analisis memiliki kebijakan mutu sekolah; 2) analisis
sumber daya tersedia dan siap; 3) analisis tentang harapan prestasi yang
tinggi; 4) analisis terhadap pelanggan (khususnya pada peserta didik yang
masuk); dan 5) analisis manajemen MBS (Dirjen Dikdasmen, 2006;
Bafadal, I. 2003)
b) melakukan analisis tentang proses layanan pendidikan, misalnya: 1) analisis
efektivitas proses belajar mengajar; 2) analisis kepemimpinan sekolah yang
demokratis; 3) analisis pengelolaan SDM dan keuangan yang efektif, transparan dan
akuntabel; 4) analisis sekolah berbudaya mutu; 5) analisis sekolah yang
memiliki teamwork yang kompak, cerdas, visioner, dan dinamik; 6) analisis kemandirin dalam pengelolaan
sumber daya sekolah; dan sebagainya (Dirjen Dikdasmen, 2006)
c) melakukan analisis output pendidikan, misalnya: 1) analisis kualitas karya
sekolah; 2) analisis produktivitas warga sekolah; 3) analisis lulusan dengan
kebutuhan masyarakat
3. Metode Analisis Ekonometrik
Metode ini memakai data empirik, statistik, kuantitatif, dan teori ekonomi dalam mengukur perubahan untuk
hubungannya dengan ekonomi. Metode ini lebih dekat dengan pendekatan
perencanaan pendidikan model untung rugi atau keefektifan biaya. Sebagai
penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu
dilakukan adalah:
a) melakukan analisis secara empirik atau kuantitatif
tentang sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh lembaga, yang berpotensi untuk
bisa dikembangkan secara maksimal dalam rangka meraih keuntungan finansial
secara maksimal.
b) melakukan analisis tentang peluang output dari
layanan pendidikan yang dapat terserap oleh dunia usaha atau industri, sehingga
layanan pendidikan yang diberikan betul-betul mempunyai nilai ekonomis yang
tinggi. Oleh karena proses layanan pendidikan yang tidak bernilai produktif
(memberi nilai ekonomis) harus ditiadakan.
4. Metode Diagram
Sebab
Akibat
Metode
ini dipakai dalam perencanaan yang menggunakan sekuen hipotetik untuk
mendapatkan gambaran masa depan yang lebih baik. Metode ini hampir sama dengan
pendekatan strategik. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan
metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
a) melakukan analisis beragam problem atau beragam
tantangan yang akan dihadapi oleh dunia pendidikan di masa yang akan datang.
Oleh karena itu diperlukan adanya analisis SWOT (Strength atau kekuatan,
Weakness atau kelemahan, Opportunity atau kesempatan, and Threat atau ancaman)
secara cermat pada semua aspek atau bidang-bidang pendidikan yang akan
dikembangkan. Tujuan dilakukan analisis SWOT adalah untuk mengenali tingkat
kesiapan setiap bidang pendidikan atau aspek kelembagaan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan pendidikan
b) melakukan analisis tindakan atau langkah-langkah yang
tepat, yang dapat dilaksanakan dalam menghadapi beragam tantangan atau problem
yang muncul pada era yang akan datang.
5. Metode Analisis Siklus Kehidupan
Metode
ini dipakai untuk mengalokasikan sumber daya yang ada di sekolah dengan
memperhatikan siklus kehidupan produksi atau output layanan pendidikan
(lulusan), proyek, program dan proses kegiatan layanan pendidikan. Tahapan yang
perlu diperhatikan oleh penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode
ini, adalah:
a) Melakukan konseptualisasi program-program dalam
perencanaan pendidikan
b) Spesifikasi program-program dalam perencanaan pendidikan
c)
Pengembangan
prototipe layanan pendidikan
d)
Pengujian dan
evaluasi program-program dalam perencanaan pendidikan
e) Operasi
f) Produk
atau output layanan pendidikan (lulusan)
6. Metode Proyeksi
Metode
ini paling banyak dipakai dalam perencanaan pendidikan di tingkat mikro
(lembaga satuan pendidikan). Perencanaan pendidikan yang menggunakan metode
proyeksi, akan menghasilkan cara (metode) pemecahan masalah penduduk lima
tahunan, data persekolahan, proyeksi penduduk usia sekolah, proyeksi siswa,
proyeksi ruang kelas, dan proyeksi kebutuhan guru. Dalam metode ini paling
tidak ada tiga metode proyeksi, yaitu:
a) Angka pertumbuhan siswa,
angka pertumbuhan siswa adalah
perhitungan kenaikan siswa setiap tahunnnya.
b) Kohort
siwa, kohort adalah satu angkatan siswa yang masuk kelas 1 (awal) sampai tamat
sekolah.
c) Arus
siswa, proyeksi arus siswa ini akan memberikan gambaran yang lebih akurat dan tepat
karena memberikan data yang mendekati kenyataan. Hal ini disebabkan proyeksi
ini menggunakan berbagai parameter yang mengontrol hasil proyeksi tiga arus
dari setiap tingkat, yaitu: (a) angka mengulang; (b) angka naik kelas; dan (c)
angka putus sekolah (Usman, H. 2008)
D.
Langkah
Menganalisis Perencanaan Pendidikan
Depdikbud (1982), mengemukakan
langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penyusunan perencanaan pendidikan
yaitu:
1. pengumpulan dan pengolahan data
2. diagnosis
3. perumusan kebijakan
4. perkiraan kebutuhan masa depan
5. perhtungan biaya
6. penetapan sasaran
7. perumsan rencana
8. perincian rencana
9. implementasi rencana
10. evaluasi rencana
11. revisi rencana, secara lebih rinci
diuraikan sebagai berikut:
a) Pengumpulan dan pengolahan data,
perkembangan pendidikan pada masa sekarang sangat perlu diketahui dan dipahami
secara jelas oleh perencana pendidikan karena gambaran keadaan itu akan
dijadikan dasar untuk penyusunan perencanaan pendidikan. Langkah pertama yaitu mengidentifikasi
jenis data yang diperlukan.
b) Jenis data yang dikumpulkan, berkenaan
dengan sistem pendidikan, baik data kuantitatif, data sarana dan prasarana,
keadaan penduduk, geografi, dan lapangan kerja.
c) Diagnosis, data yang sudah terkumpul
harus dianalisis dan didiagnosis. Menganalisis data merupakan proses untuk
menghasilkan suatu informasi. Mendiagnosisi keadaan pendidikan dapat dilakukan
melalui penelitian dengan jalan meninjau segala usaha dan hasil pendidikan,
termasuk mengkaji rencana yang sudah disusun tetapi belum dilaksanakan. Dalam
mendiagnosis keadaan pendidikan dipergunakan kriteria-kriteria seperti
relevansi, efektifitas dan efesiensi.
d) Perumusan kebijakan, merupakan suatu
pembatasan gerak tentang apa-apa yang akan dijadikan keputusan oleh orang lain.
Suatu kebijakan di bidang pendidikan dirumuskan secara melembaga oleh
pemerintah dengan melibatkan instansi-instansi terkait. Biasanya kebijakan
pendidikan sudah dituangkan dalam Repelita. Para perencana pendidikan tetap
memegang peranan penting terutama dalam memberikan nasehat teknis dalam
perumusan kebijakan.
e) Perkiraan kebutuhan masa depan,
perencanaan pendidikan harus mampu memperkirakan kebutuhan masa depan, sehingga
rencana yang lengkap dapat disusun.
f) Perhitungan biaya, menghitung untuk
semua kebutuhan yang sudah diidentifukasikan di masa datang. Perhitungan biaya
dilakukan dengan menggunakan satuan biaya atau standardisasi harga yang berlaku
untuk setiap kelompok kebutuhan dengan memperhatikan fluktuasi harga.
g) Penetapan sasaran, para perencana
pendidikan meneliti sasaran-sasaran pendidikan untuk masa yang akan datang.
Dari sasaran itu ditetapkanlah dana untuk masing-masing tingkatan sekolah.
h) Perumusan rencana, perencanaan yang
disusun pada dasarnya ditujukan untuk, menyajikan serangkaian rancangan
keputusan untuk disetujui dan menyediakan pola secara matang.
i) Perincian
rencana, rencana yang telah dirumuskan dilakukan dengan cara, yaitu penyusunan
program dan identifikasi serta perumusan proyek. Penyusunan program adalah membagi-bagikan
rencana kedalam kelompok kegiatan. Setiap kegiatan dalam kelompok ini harus
saling menunjang, dan meuju tujuan yang sama.
j) Implementasi
rencana, fase ini sudah sampai pada pelaksanaan rencana yang disusun.
Implementasi ini mulai dilakukan apabila masing-amasing proyek yang diusulkan
sudah disahkan. Oleh karena itu kerangka organisasi untuk berbagai proyek
dikembangkan berdasarkan biaya tahunan. Disamping itu dikembangkan rencana
operasionalnya sepefrti pendelegasian wewenang, penugasan tanggungjawab,
pengadaan mekanisme umpan balik dan pengawasannya.
k) Evaluasi rencana, dapat dikatakan
sebagai kegiatan akhir dari proses perencanaan sebelum revisi dilakukan.
Penilaian berkaitan dengan kemajuan/perkembangan dan penemuan
penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan suatu rencana. Penilaian yang
dilakukan juga bermanfaat untuk melihat rangkaian kegiatan dalam proses
perencanaan
l) Revisi
rencana, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi rencana. Revisi bertujuan untuk
memperbaiki, melengkapi atau menyempurnakan rencana yang akan datang
berdasarkan pengalaman masa lalu (rencana yang sudah dilaksanakan)
E.
Contoh
Skenario Masa Depan dan Perumusan Tujuan dalam Perencanaan Pendidikan
Skenario masa depan Indonesia telah
di tulis oleh beberapa ahli, diantara tulisan-tulisan tersebut tulisan Sumitro
Djojohadikusumo (1975) memberikan gambaran skenario yang agak lengkap. Skenario
itu dimulai dari asumsi bahwa pertambahan penduduk merupakan faktor pokok dalam
dinamika pembangunan yang dilaksanakan Indonesia. Dalam tahun 2000 jumlah
penduduk Indonesia akan menjadi 250 juta. Perhitungan ini di dasarkan pada
asumsi, bahwa laju penurunan dalam tingkat kesuburan (Fertility rate) terjadi
pada tahun 2000. Sebesar 25 persen dari 250 juta penduduk tersebut, 146 juta
bermukim di pulau jawa dan madura, yang berarti kepadatan penduduk di jawa akan
mencapai 1105 KM2. Dalam keadaan demikian pemenuhan kebutuhan pokok seperti
pangan, papan, kesehatan, pendidikan merupakan masalah yang sangat kritis.
Disamping itu kemajuan-kemajuan
teknologi yang dicapai oleh manusia makin hari bertambah besar pula. Teknologi
ini memungkinkan perbaikan tingkat hidup
manusia apabila penggunaannya tepat. Teknologi akan menyebabkan
perubahan-perubahan besar dalam pola perubahan kehidupan pribadi, kehidupan
keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan kata lain, perubahan-perubahan
tersebut tidak hanya mencakup berbagai segi yang luas dalam kemasyarakatan,
lembaga kenegaraan, serta tata kehidupan yang lain, tetapi juga dapat
menciptakan nilai-nilai baru yang berpengaruh pada tata cara hubungan antar
manusia dan antar kelompok manusia (Syarif Thajeb, 1981). Dengan latar belakang inilah negara melaksanakan
pembangunan sebagai wahana untuk mencapai sasaran akhir kesejahteraan rohani
dan jasmani warganya dalam suatu tata kehidupan pancasila.
Untuk itu dibutuhkan manusia-manusia
terdidik yang mampu menggunakan teknologi sebagai alat untuk mencapai cita-cita
nasional tersebut. Tujuan pendidikan nasional kita harus diturunkan dari
skenario itu. Sesuai dengan skenario masa depan itu dalam GBHN 1978 ditulis
antara lain bahwa “pendidikan nasional berdasarkan atas pancasila dan bertujuan
untuk meningkatkan ketaqwaan Tuhan YME, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi
budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar
mendapatkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri
serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. Dalam dokumen kebijaksanaan
dasar pengembangan pendidikan tinggi (Keputusan menteri P & K nomor.
0140/U/1975 tanggal 20 juli 1975) dinyatakan bahwa tanggung jawab pendidikan
tinggi adalah mengembangkan kemampuan serta kecakapan mahasiswa serta
masyarakat untuk mampu berpikir dengan berorientasi kepada kepentingan bangsa
serta kemanusiaan, baik pada waktu sekarang maupun pada masa yang akan datang,
dengan menggunakan pola-pola obyektif, kritis, analitis, yang dapat
menghasilkan persepsi dan konsepsi yang tepat (Syarif Thajeb, 1981). Dalam
kebijaksanaan dasar pengembangan pendidikan tinggi ditentukan arah pembinaan
dan pengembangan pendidikan tinggi sebagai berikut:
“Dengan
berlandaskan pada dasar-dasar tersebut dan berpedoman pada konsep pendidikan
seumur hidup (Life Long Education), pembinaan serta pengembangan perguruan
tinggi harus terarah. Pengarahan pada dasarnya ditujukan kepada pengembangan
suatu sistem pendidikan tinggi di Indonesia secara menyeluruh yang menyangkut
perguruan-perguruan tinggi pemerintah dan suatu pola pembinaan, dengan
arah-arah sebagai berikut:
1. Pendidikan tinggi harus merupakan bagian integral dari
usaha-usaha pembangunan baik nasional maupun regional.
2. Pendidikan
tinggi harus merupakan penghubung antara dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan
kebutuhan masyarakat.
3. Pendidikan
tinggi harus melaksanakan pendidikan berdasarkan pola-pola pemikiran yang
analitis dan berorientasi kepada pemecahan-pemecahan permasalahan dan disertai
oleh suatu pandangan masa depan.
4. Pendidikan
tinggi harus berpartisipasi dalam perbaikan serta perkembangan: 1). Mutu
kehidupan dan kebudayaan; 2). Ilmu pengetahuan dan penerapannya; 3). Pengertian
dan kerjasama internasional dalam usaha mencapai perdamaian dunia dan
kesejahteraan umat manusia.
Pendidikan tinggi hendaknya memungkinkan
terlaksananya: a) Pembangunan seluruh kemampuan serta kepribadian manusia; 2)
Mobilitas siswa dari satu pengalaman pendidikan yang lain; 3) Diversifikasi
dalam pendidikan dan proses belajar; 4) Demokratisasi dalam pendidikan dan
proses belajar; 5) Mobilisasi sumber-sumber masyarakat yang dapat dimanfaatkan
dalam pendidikan; 6) Pertumbuhan kegairahan riset”. (Syarif Thajeb, 1981).
DAFTAR
RUJUKAN
Shorif, M.2002. Metode dan Model Perencanaan Pendidikan,(online),
(file:///K:/Perencanaan%20Pendidikan/Metode%20dan%20Model%20Perencanaan%20Pendidikan%20~%20gadogadozaman.htm),
diakses 8 Januari 2015.
Isman, Baitur. 2011. Perencanaan Pendidikan (2), (online), (file:///
K:/Perencanaan%20Pendidikan/PERENCANAAN%20PENDIDIKAN%20%282%29%20_%20Menggagas%20dan%20Berkarya.htm),
diakses 8 Januari 2015.
Matin, 2013. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan.
Jakarta: Rajagrafindo Persada
0 komentar