TEKNIK HUMAS
07.00
A.
Pengertian Teknik Hubungan Lembaga
Pendidikan dan Masyarakat
Teknik
hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi
antara sekolah dengan masyarakat dengan tujuan
untuk meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan
pendidikan serta untuk mendorong minat
dan kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah
(Purwanto, 1995). Tanpa bantuan dari masyarakat sebuah lembaga pendidikan tidak
dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka sebuah
lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya. Oleh sebab itu penggunaan
teknik-teknik dalam menjalin hubungan yang baik antara lembaga pendidikan dan
masyarakat sangatlah diperlukan bukan hanya untuk kepentingan lembaga
pendidikan itu sendiri melainkan juga akan sangat berguna untuk masyarkat.
B.
Tujuan Penggunaan Teknik-Teknik Hubungan
Lembaga Pendidikan dan Masyarakat
Maisyaroh (2003:122) menyatakan bahwa masyarakat
perlu membantu penyelenggaraan pendidikan agar kualitas pertumbuhan dan
perkembangan pendidikan dapat dipacu secara cepat dan akhirnya menghasilkan
kualitas kehidupan masyarakat dapat meningkat. Elsbree dalam Tim Dosen
Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (2003:52) mengemukakan
beberapa tujuan teknik hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat, yaitu:
(1) meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan dan
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, yang di dalam masyarakat
demokratis, seyogyanya dapat menjadikan dirinya sebagai pelopor dan pusat
pengembangan bagi perubahan masyarakat di semua bidang kehidupan bermasyarakat;
(2) mengembangkan antusiasme/semangat saling membantu antara sekolah dan
masyarakat demi kemajuan kedua belah pihak; (3) meningkatkan kualitas
pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik; (4) berperan dalam memahami kebutuhan-kebutuhan
masyarakat; (5) mengembangkan program-program sekolah ke arah lebih maju; dan
(6) mampu menumbuhkan kreativitas serta dinamika kedua belah pihak, sehingga
hubungan antara kedua belah pihak bisa menjadi lebih aktif dan dinamis.
C.
Manfaat Penggunaan Teknik-Teknik
Hubungan Lembaga Pendidikan dan Masyarakat
Hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat
menurut Pidarta (1981:361) akan menghasilkan suatu manfaat, yaitu: (1)
pengadaan sarana dan prasarana lebih mudah karena dana bisa terealisasi dengan
adanya kerjasama tersebut; (2) lebih mudah dalam merencanakan program
pengembangan sekolah sesuai dengan keinginan masyarakat dan kemampuan sekolah;
(3) menjalin silaturahmi antara
sekolah dan masyarakat agar terjadi kerukunan sehingga adanya dukungan dari
masyarkat; dan (4) dengan adanya dukungan dari masyarakat program pengembangan
sekolah bisa terlaksana melalui kerjasama.
D.
Teknik-Teknik Penyelenggaran Hubungan
Lembaga Pendidikan dan Masyarakat
Ada banyak teknik yang dapat digunakan sekolah
untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di
sekolah. Penerapan teknik yang berhasil harus memerhatikan komitmen masyarakat
terhadap pendidikan. Masyarakat diharapkan sadar dan paham bahwa pendidikan
mutllak diperlukan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat itu sendiri. Hymes
dalam Indrafachrudi (1994:66) menyatakan bahwa teknik penyelenggaraan hubungan
antara lembaga pendidikan dan masyarakat dapat dikelompokan menjadi empat,
yaitu:
1. Teknik
Pertemuan Kelompok (Group Meeting)
Teknik
pertemuan kelompok dapat berupa diskusi, seminar, lokakarya, sarasehan, rapat
dan sebagainya. Orang yang dilibatkan dalam pertemuan kelompok adalah guru,
staf tata usaha, tokoh masyarakat, staf dari instansi yang terkait dengan
penyelenggaraan program pendidikan, pengguna lulusan, guru/dosen dari lembaga
pendidikan lain, dan sebagainya.
2. Teknik
Tatap Muka (Face to Face)
Teknik
tatap muka dilakukan antara pihak lembaga pendidikan dan masyarakat secara individual.
Pihak lembaga pendidikan dapat berkunjung ke rumah siswa yang menghadapi
masalah. Pihak lembaga pendidikan dapat memanggil orang tua atau wali siswa
yang bermasalah atau siswa yang memiliki kemampuan lebih dan perlu pembinaan
bersama agar kemampuannya dapat berkembang secara maksimal.
3. Observasi
dan Partisipasi (Observation and
Partisipation)
Teknik-teknik yang dapat dilakukan
dalam metode ini adalah:
a) Orang
Tua sebagai Pengamat (Parents as
Observer)
Orang
tua dalam teknik ini, mengamati perkembangan anak-anaknya dan membandingkannya
dengan perkembangan anak-anak lainnya. Orang tua dengan begitu akan mengetahui
kelebihan dan kekurangan anaknya. Hal ini dapat membangkitkan langkah-langkah
baru. Semakin lama orang tua mengamati perkembangan pendidikan anaknya, semakin
banyak pula orang tua mengetahui perkembangan dan perubahan anaknya dan semakin
banyak pula upaya perbaikan dan pembinaan.
b) Orang
Tua sebagai Peserta (Parent as
Participant)
Teknik ini adalah kelanjutan dari
teknik kunjungan rumah dan observasi yang kemudian ditingkatkan dalam kegiatan
sekolah. Orang tua dalam teknik ini, diikutsertakan dalam proses pendidikan,
misalnya menjadi narasumber matapelajaran atau keterampilan tertentu, baik di
dalam maupun di luar kelas.\
c) Ibu
Pembantu Kelas (Room Mother)
Indrafachrudi (1994;69) menyatakan
bahwa ibu pembantu kelas (room mother)
adalah perwakilan salah seorang orang tua peserta didik untuk ikut bertugas
membantu guru dalam kelas selama guru itu mengajar peserta didiknya, misalnya
mempersiapkan kapur tulis, absensi, dan sebagainya. Tujuannya ialah sebagai
penghubung antara sekolah dan kelompok orang tua peserta didik tersebut. Hal
yang harus diingat bahwa perwakilan orang tua peserta didik bukanlah pelayan,
ia adalah wakil orang tua yang punya kedudukan yang sama dengan guru.
4. Surat
Menyurat dengan Berbagai Pihak yang Terkait dengan Penyelenggaraan Pendidikan.
Surat menyurat
sudah lazim dilakukan oleh setiap lembaga pendidikan. Selain biaya yang cukup
murah, teknik ini dianggap mampu dilakukan setiap lembaga yang sederhana maupun
lembaga yang sudah besar perkembangannya. Sementara itu Layanan Riset
Pendidikan dan Asosiasi Nasional Kepala Pendidikan Dasar Alexandria dalam
Maisyaroh (2004a:25-26) merumuskan berbagai teknik untuk meningkatkan
keterlibatan berbagai pihak dalam menyelenggarakan pendidikan. Teknik yang
dimaksud adalah:
a) Layanan
Masyarakat
Pihak lembaga pendidikan
mempelajari kebutuhan masyarakat, melihat dan menganalisis apa yang bisa
dilakukan lembaga pendidikan untuk membantu memecahkan masalah dan memenuhi
kebutuhan masyarakat.
b) Program
Pemanfaatan Alumni Sekolah
Para senior sekolah (alumni) dapat
dilibatkan dalam kegiatan sekolah, misalnya menjadi pembicara dalam kegiatan
seminar di sekolah, keberhasilannya dalam menempuh karir dapat diinformasikan
kepada peserta didik agar bersemangat dalam belajarnya, dapat menentukan
karier, dan meningkatkan kemampuannya sehingga bisa sukses kakak kelasnya yang
telah lulus.
c) Masyarakat
sebagai Model
Masyarakat di sekitar sekolah
diundang ke sekolah untuk menjelaskan kepada siswa kiat sukses kehidupannya.
Masyarakat menjadi model peserta didik di sekolah terutama masyarakat yang
telah berhasil dalam kehidupannya.
d) Open House
Lembaga pendidikan secara terbuka
bersedia di observasi oleh masyarakat. Masyarakat dapat melihat secara langsung
proses pendidikan dan sarana pendidikan di lembaga pendidikan ini.
e) Pemberian
Kesempatan kepada Masyarakat
Lembaga pendidikan memberi
kesempatan kepada masyarakat secara sukarela untuk membantu kegiatan lembaga
pendidikan.
f) Pengiriman
Pembicara
Anggota staf lembaga pendidikan
yang berminat diberi kesempatan untuk mempromosikan program dan prestasi
lembaga pendidikan ke masyarakat pengguna lulusan atau juga bisa ke calon siswa
yang akan memasuki lembaga pendidikan tersebut.
g) Masyarakat
sebagai Sumber Informasi
Pihak lembaga pendidikan menanyakan
kepada anggota masyarakat tentang isu-isu hangat terkait dengan pengembangan
lembaga, hasilnya dibuat semacam rekomendasi untuk pengembangan lembaga
pendidikan.
h) Diskusi
Panel
Siswa, orang tua siswa, staf
sekolah, dan pekerja yang lain dengan anggota masyarakat mengadakan pertemuan
untuk menindaklanjuti kegiatan lembaga pendidikan agar semua usaha yang telah
dilakukan dapat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak.
Sekolah juga dapat menerapkan
beberapa teknik dalam hubungan dengan masyarakat dalam lembaga pendidikan
antara lain:
a) Laporan
pada orang tua. Teknik ini maksudnya adalah pihak sekolah memberikan laporan
pada orang tua murid tentang kemajuan-kemajuan, prestasi, dan kelemahan anak
didik pada orang tuanya.
b) Majalah
dan surat kabar sekolah. Majalah sekolah ini diusahakan oleh orang tua dan
guru-guru di sekolah yang diterbitkan setiap bulan sekali yang isinya
menjelaskan tentang kegiatan sekolah, karangan guru-guru, orang tua, dan
peserta didik, pengumuman dan sebagainya.
c) Pameran
sekolah. Suatu teknik yang efektif untuk memberi informasi tentang hasil
kegiatan dan keadaan sekolah pada
masyarakat ialah penyelenggaraan pameran sekolah dengan membuat atau mengatur
hasil pekerjaan peserta didik diluar sekolah atau di sekolah.
d) Open House. Teknik
untuk mempersilahkan masyarakat yang berminat untuk meninjau sekolah serta
mengobservasi kegiatan dan hasil pekerjaan peserta didik di sekolah yang
diadakan pada waktu tertentu.
e) Kunjungan
orang tua peserta didik ke sekolah. Orang tua diberi kesempatan untuk melihat
anak-anak mereka belajar di dalam kelas, sehingga mereka memperoleh gambaran
yang jelas tentang kehidupan di sekolah.
f) Kunjungan
ke rumah peserta didik. Kunjungan ke rumah orang tua peserta didik merupakan
teknik yang sangat efektif dalam mengadakan hubungan dengan orang tua di rumah
agar dapat mengetahui latar belakang hidup anak-anak.
g) Laporan
tahunan. Laporan ini dibuat oleh kepala sekolah dan diberikan kepada aparat
pendidikan lebih atas yang berisikan tantang kegiatan-kegiatan sekolah termasuk
kurikulum, personalia, anggaran, biaya dan sebagainya.
h) Organisasi
perkumpulan alumni. Merupakan suatu alat yang sangat baik untuk diberdayakan
dalam memelihara serta meningkatkan hubungan antara sekolah dan masyarakat.
i)
Kegiatan ekstrakurikuler. Apabila ada
kegiatan ekstrakurikuler yang sudah dianggap matang untuk dipertunjukan kepada
orang tua peserta didik dan masyarakat, seperti sepak bola, drama, pramuka dan
sebagainya.
Selain
teknik-teknik tersebut, Maisyaroh (2003:128) komunikasi yang efektif dengan
masyarakat di sekitar sekolah merupakan teknik yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat. Ada beberapa cara yang dapat digunakan
untuk melakukan komunikasi yang efektif dengan masyarakat, yaitu: (1) memberdayakan
orang-orang kunci, yakni orang-orang yang mampu mempengaruhi dan dianut orang
lain, apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang kunci biasanya dipercaya dan
dilaksanakan oleh masyarakat sekitar; (2) warga sekolah yang bersifat terbuka
terhadap saran dan kritik masyarakat, dalam hal ini memang perlu diwaspadai
kritik yang mungkin ingin menjatuhkan sekolah, untuk itu penerima kritik harus
selektif; (3) komunikasi dengan masyarakat perlu dilakukan dengan terus menerus, agar harapan dan kebutuhan
masyarakat dan sekolah dapat sejalan; dan (4) pada saat yang tepat, pihak
sekolah melibatkan masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam kegiatan
sekolah, misalnya dalam kegiatan olahraga, kesenian, atau pada saat dies natalis sekolah.
Sedangkan Begin
dalam Suryosubroto (2004: 163) mengemukakan bahwa kegiatan humas (public relations) dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu: (1) external public
relations (humas ke luar); dan internal
public relations (humas ke dalam), sehingga hubungan sekolah dan masyarakat
yang merupakan kegiatan humas juga mengenal dengan kegiatan publisitas ke luar
dan publisitas ke dalam. Berikut ini akan diuraikan secara rinci berbagai jenis
kegiatan humas yang dipandang perlu dilaksanakan oleh sekolah, baik yang
eksternal maupun yang internal.
1) Kegiatan
Eksternal
Kegiatan
eksternal ini selalu berhubungan atau ditujukan kepada masyarakat diluar warga
sekolah. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan yakni secara langsung (tatap
muka) dan tidak langsung. Kegiatan eksternal tidak langsung adalah kegiatan
berhubungan dengan masyarakat melalui perantakan media tertentu, sedangkan
kegiatan eksternal dapat juga melalui media. Berikut ini diuraikan tentang
program yang termasuk dalam kegiatan eksternal.
a) Pameran
Pameran adalah pertunjukan hasil
karya seni atau barang hasil produksi. Kegiatan pameran merupakan pelaksanaan
fungsi humas melalui penyelenggaraan pameran atau ekshibisi.
b) Seminar
dan Konferensi
Guna menunjang penggunaan berbagai
macam media yang diuraikan, ada baiknya jika suatu lembaga pendidikan
menyelenggarakan suatu pertemuan khusus untuk khalayak. Bentuk pertemuan itu
bisa berupa seminar atau konferensi pers.
c) Open House
Open
house adalah sebuah acara ketika seseorang, instansi, atau
lembaga mengundang masyarakat tertentu untuk meninjau keadaan atau kegiatan
yang sedang diselenggarakan, misalnya peninjauan gedung baru.
d) Tari,
sandiwara, wayang, ketoprak, dan seni tradisional lainnya
Peserta didik dapat menyumbangkan
acara Vocal group, tari-tarian, atau
sandiwara. Sekolah mungkin memiliki kelompok sandiwara, teater, atau ketoprak,
sehingga suatu saat dapat dipentaskan. Para penontonnya tentu para tamu
undangan, terutama orang tua peserta didik, pemuka masyarakat, atau masyarakat
umum.
e) Laporan
Laporan dapat dibedakan laporan
lisan dan laporan tertulis. Adapun laporan yang dimaksudkan disini adalah
laporan tertulis. Wali kelas wajib melaporkan prestasi belajar peserta didik melalui raport. Kemudian, raport
tersebut diteruskan kepada orang tua peserta didik agar mereka mengetahui
prestasi belajar putra-putri mereka.
f) Pakaian
seragam
Pakaian
seragam sangat penting bagi sekolah karena dengan seragam akan tampak harmonis,
serasi, sejajar, serta tidak terlihat perbedaan kaya dan miskin. Sehingga dapat
dibayangkan seandainya para peserta didik dibebaskan dari pakaian seragam, maka
perbedaan di antara mereka tampak jelas. Hal ini dapat mengakibatkan proses
pergaulan peserta didik menjadi kurang kondusif. Sekolah dengan memiliki
seragam khas akan menjadi nilai lebih bagi sekolah, sebab seragam khas sekolah
merupakan cerminan dari sekolah sendiri.
g) Company Profile (profil
lembaga pendidikan)
Merupakan buku yang memberikan
informasi tentang profil dari lembaga pendidikan. Daftar isi dari company profile, adalah (1) pendahuluan;
(2) kata pengantar atau sambutan dari kepala sekolah; (3) historis dan struktur
organisasi lembaga pendidikan; (4) produk barang atau jasa yang ditampilkan;
(5) kinerja dan manajemen pendidikan; (6) nilai aset yang dimiliki; (7) pengembangan
pendidikan serta sumber daya manusia; (8) prospek dan tantangan yang dihadapi
lembaga pendidikan saat sekarang dan di masa yang akan datang; dan (9) daftar
kantor cabang, alamat, atau telepon.
h) Special Event (kegiatan
khusus dalam humas)
Merupakan program kerja dan
pelaksanaan kegiatan humas dalam memberikan informasi secara langsung (tatap
muka) yang dapat dikemas berbentuk suatu media humas, baik untuk mewakili
sekolah maupun tentang pengenalan dan pengetahuan tentang sekolah atau mengenai
pelayanan yang dapat diberikan kepada pihak masyarakat sebagai khalayak
sasaran.
i)
Pertemuan dan musyawarah
Pertemuan dan musyawarah dapat
diselenggarakan secara intern, misalnya kepala sekolah dengan guru, kepala
sekolah dengan tata usaha, atau kepala sekolah dengan peserta didik. Namun
pertemuan dan musyawarah dapat bersifat ekstern dan mengikutsertakan pihak luar,
seperti pemuka masyarakat, organisasi sosial, dan orang tua peserta didik.
j)
Kunjungan ke rumah (home visit)
Kunjungan ke rumah lazimnya
dilakukan oleh para guru dengan berkunjung ke rumah orang tua peserta didik
(wali), misalnya untuk mengetahui masalah atau seluk-beluk peserta didik. Untuk
mengetahui hal itu, maka guru, wali kelas, ataupun kepala sekolah dapat
mengetahui dari orang tua peserta didik agar orang tua turut membantu
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi peserta didik. Hal-hal seperti itu
dapat ditempuh dengan cara home visit.
k) Pawai
atau karnaval
Secara langsung atau tidak
langsung, sebenarnya karnaval merupakan sebuah pameran, misalnya peserta didik
menyumbangkan kelompok drum band
dalam karnaval peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Sekolah
dengan menampilkan kelompok drum band
berarti telah berupaya membangun citra dan nama baik sekolah terhadap
masyarakat.
2) Kegiatan
Internal
Kegiatan
internal ini merupakan publisitas ke dalam dan sasarannya tidak lain adalah
warga sekolah yang bersangkutan, yakni para guru, tenaga tata usaha dan seluruh
siswa. Kegiatan internal bertujuan untuk: (1) memberi penjelasan tentang
kebijakan penyelenggaraan, situasi, dan perkembangan sekolah; (2) menampung
saran-saran dan pendapat-pendapat dari warga sekolah dalam hubungannya dengan
pembinaan dan pengembangan sekolah; dan (3) dapat memelihara hubungan yang
harmonis dan terciptanya kerjasama antara warga sekolah sendiri. Berikut ini
akan diuraikan beberapa jenis kegiatan internal yang lazim digunakan para
praktisi humas di lembaga pendidikan.
a) Diskusi
Diskusi merupakan pertemuan ilmiah
untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah tertentu yang dihadapi sekolah
dan masyarakat, terutama berkaitan dengan upaya pengembangan kemampuan siswa,
pembinaan sikap siswa, dan sebagai wahana menyamakan persepsi antara sekolah
dan masyarakat.
b) Film
Sekolah dalam hal ini memutarkan
film yang bersifat edukatif dan bermanfaat bagi peserta didik seperti film sejarah,
pengaruh narkotika dan sebagainya. Peserta didik dalam media film, diharapkan
menyadari pentingnya film yang bernafaskan pendidikan.
c) Tanya
jawab
Lazimnya bimbingan di sekolah
dilaksanakan melalui Tanya jawab dengan guru pembimbing. Setiap tanya jawab
harus memberikan kesan tertentu, baik bagi peserta didik maupun pembimbing.\
d) Papan
informasi
Papan informasi adalah tempat
menempelkan pengumuman, terkait pelaksanaan kegiatan di lembaga pendidikan dan
sosialisasi kebijakan pimpinan di lembaga pendidikan secara tertulis, seperti
edaran dan sebagainya (Nasution, 2010:116).
e) Papan
foto
Papan foto untuk menempelkan
foto-foto kegiatan di lingkungan unit kerja lembaga pendidikan yang di
dokumentasikan staf humas.
f) Kotak
saran
Dibuat untuk memperoleh dan menampung
berbagai masukan dan saran dari tenaga pengajar, peserta didik, karyawan
tentang kebijakan lembaga pendidikan yang telah berjalan.
g) Stasiun
radio sendiri
Stasiun radio tepat sebagai media
hubungan pimpinan dan staf. Sangat strategis menyampaikan informasi tentang
kebijakan lembaga, program yang akan dilaksanakan, serta membina hubungan yang
harmonis antara pemimpin dan staf atau sesama staf.
h) Komunikasi
tatap muka
Merupakan media interpersonal
antara pimpinan (pihak humas) dengan para tenaga kependidikan, tenaga
pendidikan, dan peserta didik.
i)
Acara kekeluargaan
Berbagai kegiatan dan acara tidak
resmi, seperti arisan keluarga dan rekreasi atau piknik seluruh karyawan
beserta anggota keluarganya. Tujuannya meningkatkan dan membina hubungan
harmonis antara sesame warga sekolah.
j)
Klub sosial
Lazimnya
pada lembaga pendidikan yang mapan, terdapat klub-klub sosial yang dilengkapi
dengan berbagai fasilitas guna mempererat hubungan antara pihak pimpinan dan
anggotanya, guru, dan peserta didik.
k) Literatur
pengenalan atau informasi
Literatur pengenalan adalah
berbagai macam naskah, materi, atau buklet yang berisikan riwayat singkat
lembaga pendidikan dengan bagan-bagan, struktur manajemen, dan aneka hal
penting lainnya yang harus diketahui para pegawai baru (Nasution, 2010:118).
l)
Jaringan telepon internal
Melalui telepon setiap staf di
lembaga pendidikan dapat menyampaikan gagasannya mengenai berbagai hal.
Kebiasaan pemikiran dan penyampaian ide-ide baru bisa dirangsang melalui
penyediaan paket insentif.
E. Hambatan-Hambatan
Teknik Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Pidarta (1988)
menyatakan dalam menjalin hubungan antara sekolah dan masyarakat pastinya tidak
selalu berjalan lancer seperti apa yang diharapkan, tentunya ada beberapa
kendala mendasar yang juga sangat berdampak pada keharmonisan hubungan
tersebut, sehingga hubungan antara sekolah dan masyarakat menjadi tidak lancer
dan kendalanya adalah: (1) kurangnya pemahaman masyarakat tentang pendidikan
dan juga pemahaman warga sekolah tentang apa dan bagaimana seharusnya pengelolaan
hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun; dan (2) kurangnya komunikasi
antara warga sekolah dan warga masyarakat sehingga tercipta komunikasi satu
arah antara sekolah dan warga masyarakat/wali murid dan pada akhirnya sekolah
tidak tahu keinginan masyarkat tetapi memaksakan keinginannya pada
masyarakat/wali murid. Sekolah dalam hal ini harus mengetahui hambatan-hambatan
tersebut untuk meminimalisasi pengaruh yang negatif terhadap upaya pengembangan
sekolah.
Daftar Rujukan
Benty, D., dan Gunawan, I. 2015. Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat. Malang. UM PRESS.
0 komentar