Kedudukan Asesmen Kebutuhan, Pengambilan Keputusan, dan Perencanaan dalam Manajemen Pendidikan
07.00
Kedudukan Asesmen Kebutuhan, Pengambilan Keputusan, dan
Perencanaan dalam Manajemen Pendidikan
Sistem
Pendidikan, sistem adalah suatu
rangkaian dari sejumlah komponen yang berinteraksi satu sama lain untuk
mencapai tujuan tertentu. Pada dasarnya, suatu sistem terdiri dari tiga
komponen: masukan (inputs), proses (procces), dan luaran (outcome). Belakangan ini, suatu sistem
dapat diperluas sampai dengan lingkungan (environment),
hasil (outcomes), dan dampak (impact). pendidikan dapat dipandang
sebagai suatu sistem yang memiliki komponen-komponen masukan, proses, luaran,
lingkungan eksternal, hasil, dan dampak. Masukan dalam sistem pendidikan antara
lain adalah siswa, guru, tenaga kependidikan, keuangan, dokumen kurikulum dan
pembelajaran, sarana-prasarana, serta informasi dan komunikasi. Semua komponen
sistem pendidikan tidak berada dalam ruang “vakum”, tetapi dalam lingkungan
yang lebih besar pada aspek-aspek sosial, budaya, hukum, politik, ekonomi, dan
teknologi. Pada saat sekarang, sistem pendidikan bukan lagi sebagai sistem
tertutup, tetapi sudah menjadi suatu “sistem terbuka”, yang membutuhkan sumber
daya dari luar sistem itu sendiri.
Sumber
Daya Pendidikan, secara umum dikatakan bahwa seluruh masukan
dari suatu sistem pendidikan merupakan sumber daya pendidikan (educational resources). Dengan
demikian, sumber daya pendidikan meliputi sumber daya manusia, keuangan, sarana
dan prasarana, informasi dan komunikasi, dan lingkungan. Sumber daya manusia
terdiri dari pendidik dan tenaga kependidikan (antara lain kepala sekolah,
tenaga administrasi, pustakawan, tenaga laboratorium, dan tenaga kebersihan).
Sumber daya manusia ini harus memenuhi standar kualifikasi akademik dan
kompetensi tertentu. Sumber daya yang paling fleksibel adalah uang, karena uang
dapat digunakan untuk memperoleh sumber daya lainnya. Nampak sekali hubungan
antara uang, aset fisik, dan tenaga kerja. Secara umum dapat dikatakan bahwa
uang dapat dialokasikan ke masing-masing unit organisasi. Sebagian besar
organisasi mengalokasikan uang melalui anggaran formal seperti anggaran
pengeluaran, modal, bahan mentah, dan sumber daya manusia. Sarana dan prasarana
juga merupakan sumber daya yang paling penting dalam suatu sistem pendidikan.
Sarana adalah sesuatu yang digunakan untuk mendukung secara langsung proses
pendidikan, sedangkan prasarana adalah sesuatu yang mendukung proses pendidikan
secara tidak langsung. Teknologi informasi dan komunikasi sekarang menjadi
sumnber daya yang strategis, bahkan dapat menunjang keseluruhan penggunaan
sumber daya pendidikan. Prasojo dan Riyanto (2011) menjelaskan bahwa
pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan difokuskan pada
peningkatan kualitas pembelajaran, sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan
kualitas pendidikan.
Manajemen
Pendidikan, manajemen adalah
proses pemanfaatan sumber daya manusia dan material secara efisien untuk mencapai
tujuan tertentu (Buford dan Bedeian, 1988). Sementara itu, Mary Parker Follet
mengartikan manajemen sebagai “getting
things done through people” manajemen diartikan sebagai proses mengerjakan
sesuatu melalui orang. Robbins dan Coulter (1999) mendefinisikan manajemen
sebagai proses pengkoordinasian dan pengintegrasian aktifitas-aktifitas
pekerjaan sehingga dapat diselesaikan secara efisien dan efektif dengan atau
melalui orang lain. Pemanfaatan sumber daya serta pengkoordinasian dan
pengintegrasian aktifitas-aktifitas pendidikan harus melalui fungsi-fungsi
manajemen. Buford dan Bedeian (1982) mengidentifikasikan lima fungsi manajemen:
perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing),
pengembangan staf dan sumber daya manusia (staffing
and human resource management), pengarahan dan pengaruhan (leading and influencing), dan
pengawasan/pengendalian (controlling).
Sehubungan dengan fungsi-fungsi
manajemen ini, Terry (1978) menyebutkan ada empat fungsi manajemen yang sering
disebut POAC: perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing),
penggerakan (actuating), dan
pengawasan (controlling).
Istilah-istilah pada fungsi manajemen ini pada dasarnya memiliki esensi yang
sama, yaitu merupakan rangkaian proses atau aktifitas-aktifitas utama dalam
memanfaatkan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan substansi atau bidangnya,
pemanfaatan sumber daya dilakukan meliputi kurikulum, sarana-prasarana,
ketenagaan, kesiswaan/kemahasiswaan, penjaminan mutu, humas dan kerjasama.
Dengan demikian, manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagai “proses
pemanfaatan sumber daya serta pengkoordinasian dan pengintegrasian
aktifitas-aktifitas secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan berdasarkan
jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, dengan bantuan orang lain, melalui
fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengembangan staf, pengarahan, dan
pengendalian, serta melingkupi substansi-substansi kurikulum dan pembelajaran,
personalia, sarana-prasarana, keuangan, kesiswaan/kemahasiswaan, penjaminan
mutu, hubungan masyarakat, dan kerjasama”. Dari definisi manajemen pendidikan
secara luas diatas, dapat dikembangkan taksonomi manajemen pendidikan berikut
ini:
1. Ditinjau dari
macam sumber daya, manajemen pendidikan dapat mencakup: manajemen sumber daya
manusia, manajemen keuangan, manajemen sarana dan prasarana, manajemen
informasi dan komunikasi, dan manejemen lingkungan pendidikan.
2. Ditinjau dari
substansi/bidang aktifitas, manajemen pendidikan terdiri dari antara lain:
manajemen kurikulum dan pembelajaran, manajemen personalia, manajemen sarana
dan prasarana, manajemen keuangan, manajemen kesiswaan/kemahasiswaan, manajemen
penjaminan mutu, manajemen humas, dan manajemen kerjasama.
3. Ditinjau dari
jalur pendidikan dapat dikategorikan menjadi manajemen pendidikan formal,
manajemen pendidikan non formal, dan manajemen pendidikan informal.
4.
Ditinjau dari
jenjang pendidikan, manajemen pendidikan terdiri dari manajemen pendidikan anak
usia dini, manajemen pendidikan dasar, manajemen pendidikan tinggi.
5. Ditinjau dari
jenis pendidikan, terdapat manajemen pendidikan umum, manajemen pendidikan
kejuruan, manajemen pendidikan akademik, manajemen pendidikan profesi,
manajemen pendidikan vokasi, manajemen pendidikan keagamaan, dan manajemen
pendidikan khusus.
Matarantai: dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan dan pencapaian tujuan
organisasi, perlu direncanakan aktifitas-aktifitas secara matang. Perencanaan
pada dasarnya adalah proses penentuan tujuan organisasi dan pemilihan tindakan
masa depan untuk mencapai tujuan tersebut (Bafford dan Bedeian, 1988). Menurut
Bufford dan Bedeian, perencanaan ini memiliki kedudukan terpenting dalam
manajemen karena merupakan basis bagi fungsi-fungsi
pengorganisasian, pengembangan sumber daya manusia, pengarahan dan pengaruhan,
serta pengendalaian/pengawasan. Sekalipun dalam realita terjadi antar hubungan (Interrelated) pada fungsi-fungsi
tersebut, perencanaan harus dilakukan terlebih dahulu, baru kemudian
fungsi-fungsi yang lain. Perencanaan terutama dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan atau kesenjangan antara keadaan yang ada (das-sein) dan keadaan yang diharapkan (das-sollen). Dengan perkataan lain, tidak ada perencanaan tanpa
asesmen kebutuhan, dan tidak ada asesmen kebutuhan tanpa dilanjutkan dengan
perencanaan. Namun demikian, setelah diselesaikan asesmen kebutuhan tidak serta
merta dapat dilakukan perencanaan. Dalam hal ini masih ada kegiatan “antara”
yang disebut pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan adalah proses
pemilihan tindakan dari banyak alternatif yang dianalisis (Cunningham, 1982).Daftar Rujukan
Sonhadji, A., Huda, M. 2014. Asesmen Kebutuhan, Pengambilan Keputusan, Dan Perencanaan. Malang: Universitas Negeri Malang
0 komentar